Waktu itu sekitar pertengahan januari awal tahun 2011 saya mencoba menggapai puncak lawu yang sudah lama tak kukunjungi. Mendekati akhir tahun 2010 cuaca tidak bersahabat, badai dimana-mana. Rencana pergi menyelam pada libur semester ini pun harus ditunda gara-gara cuaca tidak memungkinkan untuk menyelam.
Alhasil daripada liburan tidak kemana-mana pergilah kami bersepeluh dari jogja menuju cemoro sewu ( basecamp pendakian lawu).
Betapa kaget saya ketika sampai disana. Terlihat pohon-pohon ambruk di dekat gerbang masuk pendakian. Dan setelah bertanya kepada mas Bajing dan mas Soleh (penjaga basecamp) ternyata Lawu telah dilanda badai besar selama sepuluh hari dan baru berhenti hari ini, hari saat kami datang. Selama sepuluh hari tersebut jalur pendakian ditutup dan hari itu masih ditutup. Perasaan kecewa dan sedih bercampur saat mendengar pendakian ditutup. Bagaimana tidak kami sudah jauh jauh dari jogja menempuh berkilo-kilometer hanya untuk menjenguk mbah Lawu.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak mendaki dan berkemah satu malam di belakang basecamp cemorosewu. Satu malam kami lewati dengan nasi telor mie dan djarum super. Ngobrol
ngalor ngidul tanpa arah semalaman sampai satu persatu dari kami tertidur.
Paginya kami dibangunkan oleh matahari yang cerah. Wow, ternyata hari ini cerah sepertinya tidak badai. Dan salah satu dari kami mencoba ke basecamp dan me-lobby lobby mas-mas penjaga basecamp supaya diijinkan naik. Dan kami berhasil mendapat ijin walau tidak resmi menggunakan retribusi.
Perjalanan dimulai.....
ditemani nikon FM2 kesayangan dengan amunisi lucky color dan BW berikut hasil jepretannya
 |
| menuju puncak |
 |
| pohon tumbang di jalur pendakian |
 |
| istirahat sejenak |
|
 |
| ganasnya badai |
 |
| gara-gara badai |
 |
| bersiap membangun dome di goa samping sendang drajad |
 |
jalan panjang menuju langit biru
|